Citra Aulia
Rahasia di balik Rahasia
Senin, 27 Juni 2011
Citra Aulia: Semua juga ada deadlinenya teh
Citra Aulia: Semua juga ada deadlinenya teh: "'teh keliatan lagi bingung, mikirin deadline tugas lagi ya, deadline kok di bikin pusing teh, bukannya sehari-hari teteh juga dihadapin sama..."
Semua juga ada deadlinenya teh
"teh keliatan lagi bingung, mikirin deadline tugas lagi ya, deadline kok di bikin pusing teh, bukannya sehari-hari teteh juga dihadapin sama deadline kehidupan, berarti seharusnya udah semakin mahir dong menghadapi deadline?".
waw..., apakah itu pertanyaan atau pernyataan, yang pasti ungkapan papa membuat saya menghentikan tugas sejenak dan menarik nafas untuk menenangkan diri.
oke pa, berhasil membuat teteh meresapi kalimat tersebut.
bener juga ya, sholat ada deadlinenya yaitu berupa waktu yang ditandai dengan adzan
puasa juga gitu ada deadlinenya berupa waktu sahur dan imsak ( jadi gk sabar nunggu bulan ramadhan)
bahkan kebutuhan dasar pun seperti makan, tidur semua juga ada deadlinenya
setiap manusia juga punya deadline sampai kapan dia bisa berkarya di dunia, hingga di panggil sang pencipta.
jadi sebenarnya deadline tugas, TA, pekerjaan dll adalah bagian kecil dari deadline-deadline kehidupan yang sudah ada dan yang sudah kita lewati..,atau akan dan sedang kita persiapkan??
oke pa teteh tau secara tidak langsung papa ingin mengatakan untuk tidak berlebihan terhadap sesuatu, pasrah dan ikhlas namun tetap berusaha maksimal, namun tidak menzalimin diri sendiri. karena pada dasarnya manusia sanggup melewatinya berkat latihan-latihan dari deadline-deadline kehidupan.
wahh jadi deadline-deadline tugas, kerjaan dll justru membuat kita semakin kuatt, nah gimana dengan yang namanya kesempatan kedua, kesempatan yang muncul saat deadline yang kita inginkan gk tercapai???? hmmm..., :)
waw..., apakah itu pertanyaan atau pernyataan, yang pasti ungkapan papa membuat saya menghentikan tugas sejenak dan menarik nafas untuk menenangkan diri.
oke pa, berhasil membuat teteh meresapi kalimat tersebut.
bener juga ya, sholat ada deadlinenya yaitu berupa waktu yang ditandai dengan adzan
puasa juga gitu ada deadlinenya berupa waktu sahur dan imsak ( jadi gk sabar nunggu bulan ramadhan)
bahkan kebutuhan dasar pun seperti makan, tidur semua juga ada deadlinenya
setiap manusia juga punya deadline sampai kapan dia bisa berkarya di dunia, hingga di panggil sang pencipta.
jadi sebenarnya deadline tugas, TA, pekerjaan dll adalah bagian kecil dari deadline-deadline kehidupan yang sudah ada dan yang sudah kita lewati..,atau akan dan sedang kita persiapkan??
oke pa teteh tau secara tidak langsung papa ingin mengatakan untuk tidak berlebihan terhadap sesuatu, pasrah dan ikhlas namun tetap berusaha maksimal, namun tidak menzalimin diri sendiri. karena pada dasarnya manusia sanggup melewatinya berkat latihan-latihan dari deadline-deadline kehidupan.
wahh jadi deadline-deadline tugas, kerjaan dll justru membuat kita semakin kuatt, nah gimana dengan yang namanya kesempatan kedua, kesempatan yang muncul saat deadline yang kita inginkan gk tercapai???? hmmm..., :)
Sabtu, 25 Juni 2011
I believe
saat raga bekerja sesuai dengan tugasnya. saat mata membuka dengan spontanitas dan saat panca indra primitf dengan segera menghirup udara pagi hari sehingga mulut mampu mengucap kata segarrr...
saat rintangan dan kesulitan yang menghadang namun jiwa dan fikiran mengobati dan membangkitakan dengan rasionalisasi positif. maka saat itu juga engkau memutuskan untuk melanjutkan harimu dengan antusias dan tersenyum menularkan bagi sekitar.
saat engkau bangkita dari keterpurukaan dan berbahagia dengan rasa syukur yang mengobati dan ikhlas akan segalanya. maka saat itu engkau menularkan kebijaksanaan.
saat jantung dan anggota badan, organ pencernaan, pernafasan bekerja dengan ritme yang indah dan teratur, bahkan bekerja saat kita tidak memintanya untuk bekerja.
dan saat engkau berdoa, mengerjakan ibadah dengan sendirinya yang terahir dari alam hati nurani yang paling dalam, sehingga engkau merasa bersalah dan kurang saat melupakannya.
semua berjalan dengan spontanitas dengan ritme yang semestinya tanpa perintah dan suruhan seakan terlahir begitu saja. bahkan saat kita hanya melihat abstraksi bukan sebuah benda kongkrit.
yah terima kasih Believe..., engkau sederhana namun luar biasa.. :)
terisnpirasi dari lagu I Believe : Irfan Makki Feat Maher Zein..
saat rintangan dan kesulitan yang menghadang namun jiwa dan fikiran mengobati dan membangkitakan dengan rasionalisasi positif. maka saat itu juga engkau memutuskan untuk melanjutkan harimu dengan antusias dan tersenyum menularkan bagi sekitar.
saat engkau bangkita dari keterpurukaan dan berbahagia dengan rasa syukur yang mengobati dan ikhlas akan segalanya. maka saat itu engkau menularkan kebijaksanaan.
saat jantung dan anggota badan, organ pencernaan, pernafasan bekerja dengan ritme yang indah dan teratur, bahkan bekerja saat kita tidak memintanya untuk bekerja.
dan saat engkau berdoa, mengerjakan ibadah dengan sendirinya yang terahir dari alam hati nurani yang paling dalam, sehingga engkau merasa bersalah dan kurang saat melupakannya.
semua berjalan dengan spontanitas dengan ritme yang semestinya tanpa perintah dan suruhan seakan terlahir begitu saja. bahkan saat kita hanya melihat abstraksi bukan sebuah benda kongkrit.
yah terima kasih Believe..., engkau sederhana namun luar biasa.. :)
terisnpirasi dari lagu I Believe : Irfan Makki Feat Maher Zein..
Saat semua sudah Tercatat
ku berlari namun tak sampaiku bertanya yang merupakan jawaban dari pertanyaann
ku berdiri arah yang tak jelas tanpa petunjuk
bolehkah saya bertanya berlari
sekali saja melakukan yang seharusnya tak ku lakukan
bukan kah aku manusia?
yang berhak untuk menunjukkan eksistensi ku sebagai manusia
bukankah manusia tak sempurna maka boleh ya sebentar saja
tiada tanda, tiada angin tiada petunjuk
tau kah kau caranya?
ya..., selalu ada alasan di balik suatu perbuatan
selalu ada jawaban di balik sebuah pertanyaan
dan selalu ada rahasia di balik rahasia
dan selalu ada hikmah di balik suatu kejadian
karena semua sudah tercatat
lakukan kalau memang harus di lakukan
lantas apakah aku berhenti sejenak dan melihat ke belakang
atau aku tau sebuah kekuatan yang belum ku keluarkan
karena manusia tidak akan berlari sebelum berjalan
tidak akan tahu indahnya senyuman sebelum melihat
tidak akan bernyanyi sebelum mendengarkan indahnya tangga nada
Kamis, 16 Juni 2011
memaafkankah atau meminta maaf?
" Teh apa bedanya meminta maaf dan memaafkan" ( sepupu saya bertanya). apa yah..., mata saya mulai melirik kira dan kanan untuk berusaha ngelesss hehehe. sayapun mencoba menjawab:
Memaafkan dan meminta maaf. memaafkan kata sifat dan meminta maaf kata kerja. berarti memaafkan belum tentu berani untuk meminta maaf, sedangkan meminta maaf dia melakukan tindakan sebelum tindakan muncul tentu ada proses/ motiv yang mendorong tingkah laku tersebut yaitu memaafkan. maka sebelum dia meminta maaf dia sudah memaafkan terlebih dahulu
jadi kalau dihitung dengan matematik memaafkan nilainya satu sedangkan meminta maaf dua karena memaafkan dan adanya action ( tingkah laku).
sepupu saya bertanya kembali: meskipun yang salah bukan kita? saya mulai tertawa di dalam hati nih... akhirnya saja jawab :" nah itu dia mengapa jarang orang yang ingin meminta maaf disaat ia tau bahwa dirinya tidak bersalah"
hmmm..,, dan berhasil sepupu saya semakiiin bingunng.., tapi tiba-tiba dia mengangguk dan tersenyum sambil menatap saya dan pergii. justru saya semakin bingung apakah itu senyuman itu menandakan bingung atau apa???
yah yah nuhun buat rifqi faiz al-faruqi diskusi singkatnya malam ini, yah ini hanya sebuah pendapat pasti yang lain punya pendapat yang lebih dari saya... :)
*diskusi ringan di sela2x keseriusan skripsi.." :)
Memaafkan dan meminta maaf. memaafkan kata sifat dan meminta maaf kata kerja. berarti memaafkan belum tentu berani untuk meminta maaf, sedangkan meminta maaf dia melakukan tindakan sebelum tindakan muncul tentu ada proses/ motiv yang mendorong tingkah laku tersebut yaitu memaafkan. maka sebelum dia meminta maaf dia sudah memaafkan terlebih dahulujadi kalau dihitung dengan matematik memaafkan nilainya satu sedangkan meminta maaf dua karena memaafkan dan adanya action ( tingkah laku).
sepupu saya bertanya kembali: meskipun yang salah bukan kita? saya mulai tertawa di dalam hati nih... akhirnya saja jawab :" nah itu dia mengapa jarang orang yang ingin meminta maaf disaat ia tau bahwa dirinya tidak bersalah"
hmmm..,, dan berhasil sepupu saya semakiiin bingunng.., tapi tiba-tiba dia mengangguk dan tersenyum sambil menatap saya dan pergii. justru saya semakin bingung apakah itu senyuman itu menandakan bingung atau apa???
yah yah nuhun buat rifqi faiz al-faruqi diskusi singkatnya malam ini, yah ini hanya sebuah pendapat pasti yang lain punya pendapat yang lebih dari saya... :)
*diskusi ringan di sela2x keseriusan skripsi.." :)
Senin, 13 Juni 2011
belajar untuk mencari jawaban yang "sebenarnya"
awalnya merenung dan membayangkan teknis acara yang terdapat pada lesson plan yang sedang saya bikin, justru saya menemukan hal yang luar biasa dari hal yang saya renungkan dan bayangkan (ini menurut saya), bener ya seharusnya belajar untuk mencari jawaban yang sebenarnya.
jadi inget waktu semester dua, salah seorang dosen bercerita saat ia menjadi seorang mahasiswa. saat ia menjadi seorang mahasiswa ia sempat mengalami Indeks Prestasi Komulatif yang jelek sekitar 2,... (saya lupa koma berapa). hingga akhirnya mencoba dengan sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalan, dan ia pun berhasil namun saat di penghujung masa akhir studinya beliau menangis. yup beliau menangis karena saat ia mencoba membuka dan mengingat satu persatu mata kuliah yang ia pelajari ia melupakannya terutama mata kuliah di awal semester. singkat cerita beliau menjadikan itu pelajaran bagi dirinya dan saat menempuh jenjang S2 beliau tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. intinya saat itu beliau ingin mengajarkan kepada kita para mahasiswanya ilmu terlalu berharga untuk di samakan dengan nominal sebuah angka mau huruf apakah itu A,B,C,D. yah belajarlah kita karena memang kita membutuhkan ilmunya dan jadikanlah nilai akhir berupa huruf dan angka sebagai energi tambahan pemberi semangat.
yah dibalik kalimat itu saya menemukan suatu makna bentuklah keingintahuan untuk menemukan jawaban yang "sebenarnya". yah sepertinya kalau tujuan kita untuk menemukan jawaban yang sebenarnya akan terasa gampang untuk mengingat berbagai hal meskipun itu di semester awal sekalipun.
hari ini saya belajar untuk menemukan jawaban yang sebenarnya, dan dari menemukan jawaban yang sebenarnya saya menemukan cara untuk belajar menggunakan hati".
belajar dengan hati, nikmati proses, cintai perubahan :)
jadi inget waktu semester dua, salah seorang dosen bercerita saat ia menjadi seorang mahasiswa. saat ia menjadi seorang mahasiswa ia sempat mengalami Indeks Prestasi Komulatif yang jelek sekitar 2,... (saya lupa koma berapa). hingga akhirnya mencoba dengan sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalan, dan ia pun berhasil namun saat di penghujung masa akhir studinya beliau menangis. yup beliau menangis karena saat ia mencoba membuka dan mengingat satu persatu mata kuliah yang ia pelajari ia melupakannya terutama mata kuliah di awal semester. singkat cerita beliau menjadikan itu pelajaran bagi dirinya dan saat menempuh jenjang S2 beliau tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. intinya saat itu beliau ingin mengajarkan kepada kita para mahasiswanya ilmu terlalu berharga untuk di samakan dengan nominal sebuah angka mau huruf apakah itu A,B,C,D. yah belajarlah kita karena memang kita membutuhkan ilmunya dan jadikanlah nilai akhir berupa huruf dan angka sebagai energi tambahan pemberi semangat.
yah dibalik kalimat itu saya menemukan suatu makna bentuklah keingintahuan untuk menemukan jawaban yang "sebenarnya". yah sepertinya kalau tujuan kita untuk menemukan jawaban yang sebenarnya akan terasa gampang untuk mengingat berbagai hal meskipun itu di semester awal sekalipun.
hari ini saya belajar untuk menemukan jawaban yang sebenarnya, dan dari menemukan jawaban yang sebenarnya saya menemukan cara untuk belajar menggunakan hati".
belajar dengan hati, nikmati proses, cintai perubahan :)
Sabtu, 11 Juni 2011
"pilihan"
jadi inget waktu zaman semester 7 ( kayak udah lama aja padahal baru hitungan bulan). tepatnya pas kuliah KKPP ( Kuliah Kerja Peminatan Psikologi). waktu itu saya ngambil peminatan ke pasikologi klinis, dengan rekomendasi seorang teman akhirnya saya menemukan klien ( gaya ya) hehe.
singkat cerita klien saya mengalami stress beberap kali mencoba bunuh diri, masuk kelingkungan bebas merokok, minum, ganja, free sex, dan aborsi sudah ia lakukan ( saya aja setiap mendengarkan info dari dia merinding). dia datang ke saya awalnya dlm keadaan tidak stabil, meskipun di akhirnya ia sendiri yang memberikan dorongan kepada dirinya untuk bangkit.
namun ada hal menarik yang ia ucapkan: " yah gini deh cit gw hasil asuhan pembantu, anak hasil asuhan pembantu itu gini gk bener temen2x gw yang mengalami masalah sama dengan gw semuanya hasil asuhan pembantu".dari perkataannya dapat disimpulkan ia menyalahkan bahwa karena kurang perhatian dari orangtua terutama ibu, dia mencari hal itu di lingkungan. tapi sebenrnya didalam lubuk hati yang paling dalam ada kata yang ingin segera saya lontarkan, namun berhubung saya berudaha profesional memisahkan masalah klien dan pribadi sayapun mengontrol semua itu dan berhasil. dan kata2x yang ingin saya ucapkan saat itu ialah "tapi saya enggak, kamu mesti tau bahwa saya sangat bangga dengan kedua orantua saya" , saya juga anak suhan pembantu, ayah dan ibu saya juga berkarir, bahkan sering banget keluar kota, saya udah biasa di tinggal kalau di tanya terganggu dengan ayah dan ibu yang bekerja terkadang saya juga merasakan hal itu, dulu saya pernah terganggu hingga akhirnya mengkomunikasikan dengan kedua orangtua saya. percayakah teman sekarang saya menganggap orangtua saya ada orang yang luar biasa di tengah kesibukan mereka hak2x saya dengan saudara2x saya yang lain terpenuhi tidak hanya secara materi, karena kemampuan orangtua saya untuk menutupi kekurangan tersebut dan menjadikan kekurangan sebuah kelebihan, yang membedakan orangtua saya dengan orangtua yang lain.
lewat buku life without limits mengaktifkan kembali pelajaran lama saat saya belum lama menjadi mahasiswa alias mahasiswa semester awal. ada kata yang luar biasa dari kutipan bukunya " bahwa hidup adalah pilihan" mungkin bisa jadi saya mengalami hal yang sama dengan klient saya dengan bacground yang sama yaitu orangtua yang bekerja tapi saya dan saudara2x saya memilih jalan yang berbeda dengan klien saya, atau bisa jadi sebenarnya di awal kedua orangtua saya sudah mempesiapkan pilihan tersebut hingga akhirnya saya dan saudara2x saya dapat melihan jelas pilihan tersebut hingga akhirnya itu menjadi pilihan yang tepat bagi saya dan saudara2x saya. entah lah yang pasti saya merasa ini adalah pilihan yang paling tepat dari sebuah pilihan yang saya pilih.
lewat klient saya, saya belajar sebuah rahasia yang luar biasa yaitu " pilihan". dan lewat buku life without limits saya belajar menemukan kata "pilihan" tersebut.
nice nice nice.... :) *ini kisahku tuliskanlah kisahmu"....
singkat cerita klien saya mengalami stress beberap kali mencoba bunuh diri, masuk kelingkungan bebas merokok, minum, ganja, free sex, dan aborsi sudah ia lakukan ( saya aja setiap mendengarkan info dari dia merinding). dia datang ke saya awalnya dlm keadaan tidak stabil, meskipun di akhirnya ia sendiri yang memberikan dorongan kepada dirinya untuk bangkit.
namun ada hal menarik yang ia ucapkan: " yah gini deh cit gw hasil asuhan pembantu, anak hasil asuhan pembantu itu gini gk bener temen2x gw yang mengalami masalah sama dengan gw semuanya hasil asuhan pembantu".dari perkataannya dapat disimpulkan ia menyalahkan bahwa karena kurang perhatian dari orangtua terutama ibu, dia mencari hal itu di lingkungan. tapi sebenrnya didalam lubuk hati yang paling dalam ada kata yang ingin segera saya lontarkan, namun berhubung saya berudaha profesional memisahkan masalah klien dan pribadi sayapun mengontrol semua itu dan berhasil. dan kata2x yang ingin saya ucapkan saat itu ialah "tapi saya enggak, kamu mesti tau bahwa saya sangat bangga dengan kedua orantua saya" , saya juga anak suhan pembantu, ayah dan ibu saya juga berkarir, bahkan sering banget keluar kota, saya udah biasa di tinggal kalau di tanya terganggu dengan ayah dan ibu yang bekerja terkadang saya juga merasakan hal itu, dulu saya pernah terganggu hingga akhirnya mengkomunikasikan dengan kedua orangtua saya. percayakah teman sekarang saya menganggap orangtua saya ada orang yang luar biasa di tengah kesibukan mereka hak2x saya dengan saudara2x saya yang lain terpenuhi tidak hanya secara materi, karena kemampuan orangtua saya untuk menutupi kekurangan tersebut dan menjadikan kekurangan sebuah kelebihan, yang membedakan orangtua saya dengan orangtua yang lain.
lewat buku life without limits mengaktifkan kembali pelajaran lama saat saya belum lama menjadi mahasiswa alias mahasiswa semester awal. ada kata yang luar biasa dari kutipan bukunya " bahwa hidup adalah pilihan" mungkin bisa jadi saya mengalami hal yang sama dengan klient saya dengan bacground yang sama yaitu orangtua yang bekerja tapi saya dan saudara2x saya memilih jalan yang berbeda dengan klien saya, atau bisa jadi sebenarnya di awal kedua orangtua saya sudah mempesiapkan pilihan tersebut hingga akhirnya saya dan saudara2x saya dapat melihan jelas pilihan tersebut hingga akhirnya itu menjadi pilihan yang tepat bagi saya dan saudara2x saya. entah lah yang pasti saya merasa ini adalah pilihan yang paling tepat dari sebuah pilihan yang saya pilih.
lewat klient saya, saya belajar sebuah rahasia yang luar biasa yaitu " pilihan". dan lewat buku life without limits saya belajar menemukan kata "pilihan" tersebut.
nice nice nice.... :) *ini kisahku tuliskanlah kisahmu"....
Langganan:
Komentar (Atom)

